Oleh: Febri Satria Yazid
Sebuah video di akun Instagram @Aliciaeva9 tentang perilaku “Manusia di Airport” memantik diskusi menarik.
Video itu menggambarkan keseharian seseorang yang sangat disiplin ketika berada di bandara. Ia datang lebih awal, tertib mengantre, patuh pada prosedur, dan sigap terhadap waktu.
Semua dilakukan karena ada risiko yang jelas, ketinggalan pesawat, tiket hangus, atau rencana perjalanan gagal total, sehingga agenda yang telah disusun jadi berantakan.
Di kolom chat instagram saya, seorang penulis mempunyai pemikiran yang agak berbeda dan mengomentari video @Aliciaeva9 bahwa hidup tidak kaku hitam-putih.
“Ada saatnya kita harus patuh tanpa banyak kompromi, ada pula momen ketika keluwesan justru dibutuhkan.
Aturan keselamatan, misalnya saat naik pesawat, memang tidak bisa ditawar. Namun, tidak semua urusan hidup perlu disikapi dengan cara yang kaku.
Ada orang yang nyaman dengan disiplin, ada juga yang lebih hidup dalam spontanitas.
Keduanya sah. Yang keliru adalah memaksakan satu cara kepada semua orang.
Menjadi bijak berarti memahami bahwa manusia punya fitur yang berbeda-beda, tahu kapan harus tegas dan kapan perlu lentur, menempatkan diri sesuai waktu, kondisi, dan aturan yang berlaku”, pungkasnya.
Dari tontonan video dan tanggapan melalui chat di atas, saya tergerak untuk mengulas bahwa fenomena ini mengundang pertanyaan mendasar.
Jika kedisiplinan dapat tumbuh karena ancaman kehilangan, mengapa dalam kehidupan sehari-hari, yang juga penuh risiko, konsekuensi, dan taruhan masa depan, mengapa disiplin tidak dijadikan kebiasaan?, mengapa disiplin baru hadir ketika ada tekanan eksternal, bukan sebagai kesadaran yang tumbuh dari dalam diri?
Kedisiplinan seharusnya tidak lahir semata-mata karena ancaman, melainkan karena kesadaran akan nilai hidup itu sendiri.
Jika manusia mampu tertib demi sebuah jadwal penerbangan, seharusnya ia juga mampu bersikap disiplin demi hidupnya, demi waktu, tanggung jawab, dan harga diri yang dipertaruhkan setiap hari.
Benar bahwa hidup tidak selalu hitam-putih dan tidak semua hal perlu disikapi dengan kekakuan.
Namun justru di situlah pertanyaan pentingnya, mengapa disiplin baru muncul ketika ada sistem yang mengawasi dan risiko yang mengancam?
Video “Manusia di Airport” tidak sedang menyeragamkan cara hidup, melainkan menyingkap paradoks keseharian kita.
Kita bisa sangat tertib demi jadwal penerbangan, tetapi longgar terhadap waktu, komitmen, dan tanggung jawab hidup sendiri.
Keluwesan tanpa disiplin batin mudah berubah menjadi pembenaran atas kelalaian.
Disiplin, dalam konteks ini, bukan soal kaku atau spontan, melainkan soal harga diri, apakah kita cukup menghargai hidup kita sendiri untuk dijalani dengan sungguh-sungguh, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Dilihat dari perspektif dignity atau harga diri, ketertiban di bandara bukan hanya soal takut rugi. Ia mencerminkan kemampuan manusia menghormati sistem, waktu, dan konsekuensi.
Persoalannya, penghormatan semacam ini sering berhenti pada ruang-ruang yang diawasi dan diancam sanksi.
Di luar itu, dalam kehidupan sehari-hari, sikap yang sama kerap menghilang, seolah hidup pribadi tidak cukup penting untuk diperlakukan dengan keseriusan yang setara.
Padahal, harga diri tumbuh ketika seseorang memperlakukan hidupnya sendiri dengan hormat.
Disiplin, dalam pengertian ini, bukan lagi reaksi terhadap tekanan eksternal, melainkan ekspresi penghargaan batin terhadap waktu yang tidak dapat diulang, tanggung jawab yang diamanahkan, dan diri sendiri yang tidak ingin hidup secara serampangan.
Orang yang disiplin dalam keseharian sejatinya sedang menjaga martabatnya. Ia menolak menjadi manusia yang hanya tertib ketika diawasi.
Ketika disiplin dijalankan semata karena takut rugi, harga diri belum sepenuhnya hadir.
Dignity baru benar-benar bekerja ketika seseorang tetap tertib meski tanpa sanksi, tetap jujur meski tidak diperiksa, dan tetap bertanggung jawab meski tidak dituntut.
Pada titik inilah disiplin berubah dari keterpaksaan menjadi sikap hidup.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan permisif, disiplin kerap dipersepsikan sebagai pembatas kebebasan, penghambat kreativitas, bahkan pengekang ekspresi diri.
Padahal, justru di tengah kelonggaran nilai dan kaburnya batas etika, disiplin menjadi penopang penting bagi sesuatu yang lebih mendasar, yakni martabat manusia.
Disiplin tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan pada aturan formal. Lebih dari itu, disiplin adalah kemampuan individu untuk menata diri, mengendalikan dorongan, serta konsisten menjalani nilai yang diyakini benar.
Dalam pengertian ini, disiplin bukan paksaan dari luar, melainkan kesadaran dari dalam.
Harga diri sejati tidak tumbuh dari sorotan publik, melainkan dari kesetiaan yang hening.
Ia tidak dibentuk oleh tepuk tangan atau pengakuan, tetapi oleh kedisiplinan yang dijalani secara konsisten, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan.
Di sanalah dignity menemukan tempatnya, dalam keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari dan dalam kesanggupan seseorang untuk tetap memegang tanggung jawabnya.
Kedisiplinan bukan sekadar soal ketepatan waktu atau kepatuhan administratif.
Ia adalah pernyataan batin tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.
Orang yang disiplin sesungguhnya sedang menyatakan bahwa hidupnya cukup berharga untuk dijalani dengan sungguh-sungguh.
Sering kali, harga diri justru diuji ketika hasil tidak sebanding dengan usaha. Saat kerja keras tidak berbuah pujian, saat integritas tidak mendatangkan keuntungan, dan saat kejujuran terasa mahal.
Di titik inilah dignity memperlihatkan wajahnya yang paling jujur. Ia bertahan ketika seseorang pulang tanpa imbalan, tetapi tidak kehilangan rasa hormat pada dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, hilangnya disiplin kerap berujung pada lunturnya harga diri.
Pelanggaran kecil yang dibiarkan, janji yang diingkari (tidak menghargai komitmen), dan ketidakjujuran yang dianggap wajar perlahan merusak integritas pribadi.
Sebaliknya, individu yang disiplin cenderung memiliki pijakan moral yang lebih kokoh, dalam dunia kerja, keluarga, maupun kehidupan berbangsa.
Disiplin moral, yang hidup dalam kesadaran etis, menjadi ukuran sejati martabat manusia.
Ia menuntut keberanian untuk tetap jujur, adil, dan amanah. Di tengah krisis kepercayaan yang meluas, disiplin moral adalah bentuk perlawanan sunyi yang menjaga keutuhan diri.
Pada akhirnya, disiplin bukan sekadar keterampilan hidup, melainkan sikap moral yang meneguhkan keutuhan manusia.
Melalui disiplin, seseorang menjaga dirinya agar tidak mudah tergoda menukar harga diri dengan kenyamanan sesaat, jalan pintas, atau keuntungan instan.
Di sanalah disiplin dan dignity bertemu sebagai laku hidup yang membentuk integritas, menumbuhkan rasa tanggung jawab, dan menentukan kualitas kemanusiaan seseorang.(fsy)













