
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Fathul Ummah Metro menunjukkan komitmennya dalam memanusiakan manusia melalui pembangunan dua rumah singgah khusus bagi imam tetap dan marbot masjid. Dua rumah tipe 40 tersebut diresmikan masing-masing pada 10 September 2025 dan 20 Desember 2025.
Pembangunan dua rumah singgah ini rampung dalam kurun waktu enam bulan. Rumah singgah pertama diselesaikan selama satu bulan tiga minggu, sementara rumah singgah kedua dibangun dalam waktu dua bulan satu minggu. Kehadiran hunian ini menjadi solusi atas kondisi sebelumnya, di mana imam dan marbot tinggal di area masjid dengan fasilitas yang terbatas.
Ketua DKM Masjid Fathul Ummah Metro, Arifin Fahmi, mengungkapkan bahwa gagasan pembangunan rumah singgah berawal dari keprihatinan terhadap kondisi imam dan marbot yang telah berkeluarga. Selama kurang lebih lima tahun, pihak DKM mengontrak tempat tinggal bagi imam tetap, sementara untuk marbot tetap tinggal langsung di masjid.
“Ya itu berawal lima tahun yang lalu, kita selama ini ngontrak untuk imam tetap kita dan marbot tinggal di masjid. Padahal mereka sudah berkeluarga, sehingga kita mulai tergerak untuk membangun rumah khusus untuk mereka. Selain itu, kita memang diminta untuk memanusiakan manusia di lingkungan kita,” ujar Arifin Fahmi dalam acara talkshow Tamu Kita, pada Jumat (2/1/2026).
Menurutnya, penyediaan hunian yang layak diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan sekaligus semangat pengabdian imam dan marbot dalam melayani jamaah.
“Supaya mereka betah dan semangat melayani jamaah di tempat kita,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Ri’ayah Masjid Fathul Ummah Metro, Bambang Pudjianto menegaskan bahwa nilai kemanusiaan menjadi landasan utama pembangunan rumah singgah.
“Inikan sebetulnya masalahnya tuh bukan itu aja, kemanusiaan itu perlu kita junjung tinggi, apalagi kalau di masjid seorang marbot tidur sempit-sempitan kayak gitu. Padahal dia yang menggerakan untuk shalat sebagai muazin. Sebagai muazin itu kan mengundang orang-orang untuk datang. Nah itu kan tugas yang mulia menurut saya, sehingga kita harus memanusiakan mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, rumah yang dibangun meskipun sederhana, diharapkan mampu memberikan kenyamanan, tidak hanya bagi petugas masjid, tetapi juga keluarganya.
“Memanusiakan manusia itu harus diberi rumah yang walaupun sederhana, tapi mereka bisa nyaman. Nyaman dalam melakukan tugasnya, nyaman dalam arti mungkin dari keluarganya,” jelas Bambang.

Dari sisi eksternal, pembangunan rumah singgah Masjid Fathul Ummah Metro juga menginspirasi masjid lain. Widaroh Masjid Fathul Ummah Metro, Doni Riandi menyampaikan bahwa pihaknya mengundang Ketua FSAM (Forum Silaturahmi Antar Masjid Se-Bandung Raya) yang menaungi 36 masjid.
“Beliau menyampaikan bahwa ini menjadi inspirasi buat kita untuk melakukan hal yang sama,” ungkap Doni.
Sementara itu, Sekretaris DKM Masjid Fathul Ummah Metro, Irwan Biswanda, menyebut bahwa pembangunan rumah singgah juga bertujuan sebagai motivasi bagi imam dan marbot agar semakin giat beramal.
“Dipakai tenaga mereka demi masjid, karena mereka sangat mulia, satu muazin satu imam. Jadi dari situ mereka mungkin tergerak untuk lebih giat lagi, lebih termotivasi lagi untuk beramal. Ini intinya beramal, mungkin kalau untuk hasil yang mereka dapat mungkin engga seperti yang mereka harapkan,” katanya.
Irwan juga menambahkan bahwa ke depan, DKM berencana meningkatkan kesejahteraan imam dan marbot, termasuk dalam hal penghasilan dan jaminan kesehatan.
“Sekarang ini kita udah ingin meningkatkan mungkin penghasilan sedikit banyak, lalu ada BPJS mungkin ya untuk selanjutnya,” ujarnya.

Keberhasilan pembangunan rumah singgah ini tidak lepas dari kuatnya dukungan jamaah dan warga sekitar. Bendahara DKM Masjid Fathul Ummah Metro, Defi Firdaus, menjelaskan bahwa budaya gotong royong telah lama tumbuh di masjid tersebut.
“Awalnya itu masjid kita itu kecil, nah sampai jamaah Jumat itu meluber. Pada saat ketua DKM yang lalu punya ide untuk membangun 2 lantai itu full semuanya dana dari jamaah dan warga sebesar 5,4 miliar,” jelas Defi.
Ia menambahkan, antusiasme jamaah juga terlihat dari penggalangan dana pergantian karpet masjid yang mencapai Rp77 juta hanya dalam setengah hari.

Masjid Fathul Ummah Metro juga aktif dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Setiap Senin diadakan kegiatan tahsin, Kamis belajar kitab Riyadus Shalihin, serta kegiatan TPA bagi anak-anak pada sore hari. Pada bulan Ramadan, masjid selalu dipadati jamaah dan rutin mengadakan program sahur bersama.

Seluruh program tersebut selaras dengan visi dan misi Masjid Fathul Ummah Metro yang berfokus pada pemberdayaan jamaah.
“Visi kita adalah masjid yang meningkatkan pemberdayaan jamaah. Pemberdayaan itu satu dalam bidang ilmu pengetahuan, ilmu agama yang terutama. Nah itu yang kita fokus utama program kita,” ungkap Arifin Fahmi.
Selain itu, pembangunan rumah singgah juga diharapkan memberi dampak positif yang lebih luas bagi seluruh elemen jamaah. Ketua Majelis Ta’lim Fathul Ummah Metro, Aliet Sojariah, menekankan pentingnya peran perempuan dalam memakmurkan masjid melalui berbagai program yang telah disiapkan.
“Dalam memakmurkan masjid, peran perempuan pun jangan sampai istilahnya tertinggal, harus ditingkatkan. Sehingga kita juga punya program-program khusus untuk majelis taklimnya. Mudah-mudahan ini pun bisa manfaat,” ujarnya.
Pembangunan rumah singgah ini pun menjadi cerminan peran masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kepedulian sosial dan kemanusiaan. Melalui semangat gotong royong dan nilai memanusiakan manusia, Masjid Fathul Ummah Metro terus berupaya menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi jamaah dan lingkungan sekitarnya. (Hilda Nurhalimah/UIN SGD Bandung)













