بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Mukadimah
Bagaimana cara Islam memuliakan wanita?
Wanita dari zaman dulu memang selalu di pandang dengan sebelah mata, wanita dididik dari kecil sedangkan sesudah ia menjadi wanita dewasa diambil oleh orang lain. Namun, zaman dahulu ada sebagian wanita itu dibunuh, sekarang yang sedang dialami oleh Palestine semua sasaran zionist Israel adalah para wanita yang dibunuh secara brutal.
Qs. At Takwir (81):9
بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ
bi`ayyi żambing qutilat
9. karena dosa apakah dia dibunuh,
Datanglah seorang sahabat Rasûlullâh yang memiliki tiga anak wanita, kemudian
Rasûlullâh ﷺ bersabda, “Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan, lalu bersikap sabar terhadap keluh-kesah, suka-duka, dan jerih-payah mengasuh (mendidik) mereka, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayangnya kepada mereka.”
Imam An-Nawawi bertanya kepada Rasûlullâh :
“Wahai Rasûlullâh bagaimana jika aku hanya memiliki satu atau dua anak wanita?” Rasûlullâh menjawab, Barang siapa yang mempunyai satu atau dua anak wanita bersikap sabar atas suka duka maka tetap Allah akan memasukkannya kedalam surga berkat kasih sayang “.

Laki-laki yang baik itu ” Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku”.
Rasûlullâh ﷺ mencontohkan bagaimana cara bersikap baik terhadap isteri-isterinya.
Sehingga suatu ketika Rasûlullâh menerima tamu dirumah Aisyah r.a, Aisyah r.a lupa untuk membawakan jamuan makanan untuk tamu, datanglah Ummu Salamah ( isteri Rasûlullâh lainnya) yang membawa makanan untuk tamu, Aisyah r.a sangat cemburu sehingga ia membanting piring yang dibawa oleh Ummu Salamah. Namun, sikap Rasûlullâh sangat tenang dan beliau hanya mengatakan dihadapan para tamu : “maaf, ibu kalian sedang cemburu”, Rasûlullâh tidak memarahi Aisyah r.a,lakukan terhadap isteri jika melakukan kesalahan, jangan dikasari dengan memarahinya ( dengan marah akan menambahn suasana semakin memburuk)
Aisyah r.a akhirnya merasa menyesal atas tindakannya, sehingga Aisyah r.a meminta maaf kepada Rasûlullâh ﷺ
Surga itu dibawah telapak kaki ibu, sehingga ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasûlullâh, siapakah orang yang harus aku muliakan?
Rasûlullâh menjawab “Ibu, ibu, ibu kemudian ayah”. Zaman dahulu orang-orang Jahiliyyah bukan hanya tidak menghormati wanita, tetapi juga tidak hormat kepada seorang ibu. Bahkan, zaman dahulu wanita banyak kurang di hargai. Maka, keutamaan ibu didalam Islam adalah berbaik-baiklah terhadap ibu.

Materi pembahasan
Ada empat wanita yang Rasûlullâh sebut sebagai para penghuni ahli surga, diantaranya :
1) Maryam Binti Imran
Imran memiliki seorang isteri bernama Hana, dan mereka mempunyai keinginan jika suatu saat nanti memiliki putra akan dititipkan kepada Nabi Zakaria a.s untuk dididik di Baitul Maqdis. Namun, Allah berkehendak lain, Imran dan Hana memiliki seorang putra bernama Maryam.
Dan Allah memberikan keajaiban kepada Maryam, ia memiliki buah-buahan dimusim dingin padahal saat itu sedang musim panas, dan ketika musim panas Maryam memiliki makanan buah-buahan dimusim dingin. Akhirnya Nabi Zakaria a.s berdo’a dikamar Maryam, ia menginginkan memiliki keturunan dan Allah mengabulkan keinginan, putra Nabi Zakaria a.s yaitu Nabi Yahya a.s.
Maryam sangat menjaga kesuciannya, yang pada akhirnya hingga akhir hayatnya Maryam tidak menikah ( tidak memiliki suami), akan tetapi Allah memberikan ujian kepadanya dengan diberikan seorang putra bernama Nabi Isa a.s.
2) Asiyah binti Muzahim
Asiyah merupakan seorang wanita yang shalehah, berasal dari keturunan keluarga yang baik, sehingga ia dinikahi oleh Raja Fir’aun ( yang ketika itu Fir’aun telah ditinggal wafat oleh isterinya). Pada hakikatnya, ketika menikah Asiyah dan Fir’aun tidak berhubungan intim ( Fir’aun berhubungan intim dengan sebangsa Jin), maka mereka berdua tidak memiliki keturunan. Hingga pada akhirnya mereka mengadopsi anak, yaitu Nabi Musa a.s yang masa kecilnya dihanyutkan disungai.
Ketika itu Nabi Musa a.s kecil dihanyutkan disungai oleh ibu kandungnya, dan akhirnya Asiyah dan Fir’aun menjadikan Nabi Musa a.s sebagai anak angkatnya.
Dan setelah Nabi Musa a.s beranjak dewasa bisa menggulingkan kerajaan Fir’aun.
3) Fatimah binti Muhammad
Fatimah Azzahra sempat dilamar oleh sahabat Rasûlullâh yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khatab, namun keduanya ditolak oleh Fatimah. Karena Fatimah sudah jatuh cinta kepada sayyidina Ali. Sayyidina Ali pada saat itu sangat tidak memiliki harta yang akan disembahakan sebagai mahar untuk menikahi Fatimah, maka Rasûlullâh berkata “gunakan pakaian perangmu untuk mahar”. Maka, Fatimah menikah dengan Sayyidina Ali dengan menggunakan mahar baju perisai perangnya.
Namun, pernikahan mereka banyak mengalami ujian, khususnya ujian perekonomian. Hidup mereka serba kekurangan, sehingga Rasûlullâh memberikan pertolongan dengan mengajarkan satu do’a untuk mereka : bacalah tasbih sebanyak 33x, bertahmid sebanyak 33x dan beristigfar sebanyak 34x.
(Allah memberikan mereka anak-anak yang shaleh dan pasangan hidup yang baik).
4) Khadijag binti Khuwalid
Beliau menikah dengan Rasûlullâh setelah ditinggal wafat oleh kedua suaminya, Rasûlullâh sangat mencintai Khadijah sehingga pernah membuat Aisyah r.a merasa cemburu. Sesungguhnya Khadijah satu-satunya yang mempercayai Rasûlullâh ketika pertama kali berdakwah.
Ujian Khadijah tidaklah ringan, begitu banyak ujian-ujian yang harus dihadapi secara bertubi-tubi.
Kesimpulan
Walaupun kita “menghadapi ujian ekonomi”, kita harus tetap menjaga keharmonisan rumah tangga, tetap melakukan komunikasi baik dengan pasangan. Untuk yang memiliki ujian suami, tetap menjaga kewajiban shalat, terus mengingatkan kebaikan kepada suami, untuk yang masih mencari jodoh, carilah suami yang taat dan cinta kepada Tuhan-Nya, karena jika ia sudah tidak cinta kepada Tuhan-Nya, bagaimana ia akan mencintai pasangan hidupnya?
Wallahu A’lam Bishawab
MiKa
Afwan, apabila ada kesalahan dalam penulisan
Semoga bermanfaat dunia akhirat
(Pengirim: Erni Habibaty Official)














