Siti Sundari
Bandung, 2/04/2022
Di salah satu sudut Kota Bandung yang dikenal sebagai Kota Paris van Java, atau tepatnya pada tanggal 1 April 2022 di Hotel Crown Plaza, ada dideklarasikan suatu komunitas yang tidak biasa. Memang masih baru dan asing terdengar di telinga, Waqf Ambassador Community (WAC) namanya.
Kenapa dikatakan tidak biasa, karena komunitas ini memang baru dan istimewa. Di dalamnya penuh warna. Pengurus dan anggotanya yang dari berbagai profesi dan kalangan, semuanya wanita. Sebagaimana dijelaskan Lulu Madia Utami Sang Ketua, anggota WAC ada yang berprofesi sebagai notaris, legislator, dokter, akademisi, pengusaha, business owner, bahkan sosialita. Misi dan programnya tentang wakaf, benar-benar bernafaskan agama. Itulah sederet alasan kenapa WAC ini oleh penulis disebut komunitas yang tidak biasa.
Tanggal 1 April 2022 peluncurannya, adalah keputusan cerdas dan waktu yang tepat karena 2 hari jelang pelaksanaan ibadah puasa. Bulan Puasa bagi umat Islam adalah bulan di mana umat berlomba berbuat kebaikan termasuk wakaf di dalamnya.








Sang penggagas Eka Pujiasih saat menjelaskan secara detail tentang wakaf di awal acara, data muslim di Indonesia tercatat 235 juta jiwa. Namun dari jumlah itu indeks literasi wakaf hanya 0,427% dan indek partisipasi wakafnya sangat rendah yaitu 0,282 % saja. Artinya 99% muslim belum berwakaf di Indonesia.
Eka menjelaskan, Turki walau negara sekuler tapi amat tinggi tingkat kesadaran berwakaf rakyatnya, sehingga di sana rakyatnya sejahtera.
Di Indonesia, jelas Lulu di hadapan media, potensi wakaf uang di kisaran 188 trilyun rupiah tapi saat ini potensi wakaf yang terealisasi baru 400 milyar rupiah saja. Kenapa demikian, mungkin berwakaf itu karena konotasinya identik dengan 3 M yaitu makam, masjid dan madrasah saja.
Padahal wakaf itu, lanjut Lulu, bukan hak prerogatif orang kaya, tidak perlu menunggu uang kita berlebih atau nanti dilakukan kalau kita sudah tua.
“Wakaf bisa dilakukan segala usia. Bisa dilakukan kapan saja. Selama ini banyak teman kita yang hidup hedonis dan hobby berbelanja barang-barang yang mahal harganya. Sehingga kita jadi lalai dan lupa tujuan hidup sebenarnya”, ungkap Lulu dengan nada prihatin.
Bagaimana Lulu tidak prihatin, selama ini pemikiran tentang wakaf di mata masyarakat memang seakan wakaf itu amalan sunnah yang ga wajib, ga penting, ga kepikiran, belum mampu, harus berupa tanah atau alasan lainnya.
Itu pemikiran yang betul-betul salah kaprah di mata dua wanita bersahabat ini, karena wakaf merupakan bekal kita di akhirat, menjadi penambah pahala. Kita wafat tidak akan membawa harta. Justru sebagaimana hadist Rasulullah SAW kita akan ditanya darimana harta kita berasal dan digunakan untuk apa saja.
Sekarang kita berwakaf tidak melulu berupa tanah saja. Tapi bisa berupa uang bahkan dengan wakaf uang ini wakaf kita bisa menjadi wakaf yang lebih produktif karena bisa untuk membangun rumah sakit bahkan juga untuk infrastruktur atau yang lainnya.
Soal wakaf dalam bentuk uang, Lulu memang tidak sembarang bicara. Berdasarkan fatwa MUI nomor 106 tahun 2016 wakaf dengan bentuk uang adalah niscaya. untuk lebih menggigit lagi program komunitasnya yang concern terhadap masalah wakaf produktif ini bendera WAC yang dipimpinnya pun menggandeng Sun Life insurance syariah yang sudah berjuang selama 2 tahun sejak 2014 untuk bisa memasukkan soal wakaf uang mendapat pengakuan fatwa Majelis Ulama Indonesia.
Kerja keras para founder WAC mulai dari Eka Pujiasih, Lulu Madia Utami dan para timnya pun pun langsung membahana di bumi Indonesia dengan Kota Bandung sebagai barometernya. Wakaf yang nilainya milyaran rupiah langsung diserahkan kepada 9 yayasan /organisasi penerima wakaf atau nazhir pada saat launching di Crown Plaza. Hadir sebagai penerima wakaf saat itu di antaranya adalah utusan dari Rumah Wakaf, Daarut Tauhid, ACT (Aksi Cepat Tanggap, Dompet Duafa.
Indra dari Rumah Wakaf dan Dwi Setyo dari ACT menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Ibu Lulu Madia dkk. atas hibah wakaf berupa uang yang diterima yayasannya.
“Kami amat berterima kasih kepada Ibu Lulu dkk. dengan gerbong WAC nya telah menebar kebaikan yang memberikan wakaf untuk umat dalam cukup besar jumlahnya”, ujar Dwi Styo.
“Masih banyak orang yang belum tahu wakaf. semoga literasi dan partisipasi umat melalui duta-duta wakaf di WAC ini kian meluas tersebar di seluruh Indonesia”, ujar Indra dari Rumah Wakaf.
Kalau sudah demikian, memang betul apa yang dinyatakan sang founder dan penasehat WAC Eka
Pujiasih: “Dunia ini tempat bercocok tanam untuk akhirat dan sebaik-baiknya bibit adalah wakaf. Maka segera lakukan jangan ditunda-tunda dan tentukan langkahnya. Diantaranya adalah segera tentukan nama-nama siapa saja yang ingin mendapatkan pahala. Anak-anak, pasangan, orangtua, dan mertua. Hitung berapa rupiah yang pantas untuk diwakafkan kepada Allah setiap bulannya. Bila sudah dilakukan dan dimulai dari keluarga, kelak hasilnya akan meluas ke teman, kolega, masyarakat dan akhirnya ke seluruh nusantara. (*)














