Oleh: Febri Satria Yazid
Dalam perjalanan peradaban manusia, ada satu pola pikir yang sering muncul setiap kali persoalan datang.
Pola itu adalah kecenderungan melihat masalah secara terpisah-pisah, seolah setiap bagian berdiri sendiri tanpa kaitan dengan bagian lain.
Cara berpikir seperti ini dapat disebut sebagai cara pandang sektoral sebuah kebiasaan lama yang masih terus hidup hingga hari ini.
Gejala ini mudah dikenali. Ketika sebuah kegiatan tidak berjalan sesuai rencana, yang muncul pertama kali bukanlah upaya mencari solusi bersama, melainkan saling menunjuk pihak yang dianggap bersalah.
Setiap orang berusaha menjaga jarak dari tanggung jawab. Ruang diskusi berubah menjadi arena pembelaan diri.
Dalam suasana seperti itu, persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan justru semakin rumit.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam lingkup besar seperti pemerintahan atau organisasi.
Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari: dalam keluarga, perusahaan, lembaga pendidikan, bahkan dalam kelompok kecil di masyarakat.
Ketika kegagalan terjadi, masing-masing berdiri di posisinya sendiri, menilai dari sudut pandangnya sendiri, tanpa berusaha melihat gambaran yang lebih utuh.
Cara berpikir semacam ini membuat langkah menjadi tidak padu. Energi habis untuk mempertahankan ego masing-masing, bukan untuk memperbaiki keadaan.
Padahal, setiap persoalan biasanya lahir dari rangkaian sebab yang saling berkaitan. Jika hanya melihat satu potongan saja, maka pemahaman menjadi tidak lengkap.
Karena itu, paradigma sektoral sebenarnya sudah saatnya ditinggalkan. Dunia yang semakin kompleks menuntut cara berpikir yang lebih menyeluruh, lebih terhubung, dan lebih terintegrasi.
Kita perlu belajar melihat persoalan sebagai bagian dari satu sistem yang saling mempengaruhi.
Kunci dari perubahan ini adalah kejernihan berpikir.
Ketika pikiran tidak dipenuhi kegaduhan untuk menyelamatkan diri, seseorang akan lebih mudah melihat kenyataan secara objektif.
Ia tidak tergesa-gesa menuduh, tidak terburu-buru mencari kambing hitam, tetapi mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Menariknya, kecenderungan berpikir sempit ini juga muncul dalam situasi yang berlawanan.
Ketika keberhasilan tercapai, banyak pihak berlomba tampil ke depan untuk mengklaim bahwa keberhasilan tersebut merupakan buah kerja keras mereka.
Jika pada saat gagal orang saling menjauh dari tanggung jawab, maka pada saat berhasil justru terjadi perebutan pengakuan.
Hal ini menunjukkan bahwa di dalam diri manusia terdapat dinamika yang terus bergerak. Manusia memang memiliki satu pikiran, tetapi di dalam pikiran itu terdapat kecenderungan yang berbeda.
Di satu sisi ada dorongan untuk melihat sesuatu secara luas dan bersama-sama. Di sisi lain ada dorongan untuk menonjolkan diri sendiri.
Pertarungan dua kecenderungan ini sangat mempengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Ia bisa memilih berpikir sempit dan terkotak-kotak, atau memilih melihat persoalan secara utuh.
Pilihan ini sering kali tidak lepas dari kebutuhan manusia untuk diakui.
Jika dikaitkan dengan teori kebutuhan manusia yang diperkenalkan oleh Abraham Maslow, dorongan untuk menunjukkan diri dapat dipahami sebagai bagian dari upaya mencapai tingkat tertinggi kebutuhan manusia, yaitu aktualisasi diri.
Setelah kebutuhan dasar terpenuhi seperti kebutuhan fisik, rasa aman, rasa memiliki, dan penghargaan, ada kecenderungan manusia ingin membuktikan keberadaannya.
Keinginan ini sebenarnya wajar. Namun jika tidak dikelola dengan baik, ia dapat membuat seseorang sulit melihat kepentingan bersama. Dalam dunia politik misalnya, perbedaan kepentingan bisa berubah menjadi konflik berkepanjangan.
Dalam dunia kerja, seorang manajer bisa saja menekan bawahannya demi menjaga citra dirinya. Bahkan dalam dunia akademik, spesialisasi ilmu kadang membuat seseorang terjebak dalam sudut pandang yang sempit.
Padahal, banyak persoalan hanya dapat diselesaikan jika setiap pihak mau menyadari bahwa keberhasilan maupun kegagalan hampir selalu merupakan hasil kontribusi bersama.
Tidak ada pencapaian besar yang berdiri sendiri. Selalu ada tangan-tangan lain yang turut bekerja, baik terlihat maupun tidak.
Kesadaran seperti ini memang tidak mudah dibangun. Dibutuhkan kedewasaan berpikir untuk mengakui bahwa kita saling membutuhkan.
Setiap orang memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda, dan justru perbedaan itulah yang membuat kerja sama menjadi bermakna.
Ketika pikiran dan tenaga dipertemukan dalam semangat yang sama, pekerjaan yang berat dapat terasa lebih ringan.
Orang tidak lagi sibuk menjaga wilayahnya sendiri, melainkan berusaha memastikan tujuan bersama dapat tercapai. Dari sinilah lahir rasa kebersamaan yang membawa ketenangan batin.
Sinergi juga mengajarkan banyak hal. Ia melatih keikhlasan, karena keberhasilan tidak selalu harus disematkan pada satu nama. Ia menumbuhkan kerendahan hati, karena setiap orang menyadari bahwa ilmunya tidak berdiri sendiri. Ia juga menumbuhkan rasa saling menghormati, karena setiap peran memiliki arti.
Dalam suasana seperti itu, kehidupan menjadi lebih teduh. Persoalan dapat diselesaikan tanpa kegaduhan yang tidak perlu.
Orang bekerja dengan pikiran jernih, langkah yang terarah, serta tujuan yang sama: maju bersama dan merasakan kesejahteraan bersama.
Melampaui cara berpikir sektoral bukan hanya soal strategi organisasi atau manajemen kerja. Ia adalah soal kedewasaan manusia dalam memandang kehidupan.
Ketika seseorang mampu melihat dirinya sebagai bagian dari keseluruhan, maka setiap keberhasilan akan terasa lebih bermakna, dan setiap persoalan dapat dihadapi dengan kepala yang tetap tenang.(fsy)














