Oleh : Febri Satria Yazid
“Alam takambang jadi guru.” “Alam Takambang Jadi Guru” merupakan falsafah hidup orang Minangkabau, yang juga sering disebut sebagai pepatah adat Minangkabau. Secara kedalaman makna, ia lebih tepat disebut sebagai filsafat Minangkabau, karena ; bukan sekadar peribahasa biasa, menjadi dasar cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan, menjiwai sistem sosial, hukum adat, hingga pendidikan karakter orang Minangkabau.
Pepatah Minangkabau ini mengajarkan bahwa segala hal yang terbentang di hadapan kita dapat menjadi pelajaran hidup. Apa yang kita lihat, alami, dan rasakan sejatinya menyimpan hikmah, jika kita bersedia merenungkannya.
Salah satu pelajaran yang menarik yang dapat kita jadikan pelajaran kehidupan adalah dari ilmu matematika, yakni tentang irisan himpunan. Dalam matematika, irisan adalah himpunan yang anggotanya merupakan anggota persekutuan dari dua atau lebih himpunan. Di luar irisan tersebut, setiap himpunan memiliki wilayahnya sendiri yang tidak saling berkaitan. Bahkan, ada bagian yang sama sekali tidak termasuk dalam keduanya. Batasnya jelas dan tegas. Konsep sederhana ini sesungguhnya dapat menjadi cermin dalam kehidupan sosial kita.
Dalam hubungan pertemanan, persaudaraan, dunia kerja, maupun interaksi sosial lainnya, selalu ada wilayah “irisan” yaitu ruang bersama yang memang layak dibicarakan, dibahas, dan dicarikan solusi secara kolektif. Namun, ada pula wilayah pribadi yang bukan bagian dari irisan tersebut.
Tidak semua persoalan pribadi layak dibagikan kepada orang lain. Tidak semua hal pantas dipertanyakan. Sering kali, menceritakan kesulitan kepada orang yang tidak memahami proses dan rasa sakit yang kita alami justru memperkeruh keadaan. Nasihat yang diberikan, alih-alih menenangkan, malah bisa menambah luka.
Menjaga diri untuk tidak mengumbar segala persoalan adalah bentuk kedewasaan. Sabar adalah pilihan yang lebih menenangkan. Dalam keyakinan kita, cukup menyampaikan segala kesulitan kepada Allah Swt, Sang Maha Pemberi Jalan. Sikap ini bukan berarti menutup diri, tetapi memahami batasan mana yang menjadi irisan bersama, dan mana yang tetap menjadi wilayah pribadi.
Jika kita mencermati media sosial, begitu banyak cacian, makian, saling serang, hingga permusuhan. Akar persoalannya sering kali sama yaitu ketidakmampuan membatasi diri. Banyak orang masuk ke wilayah yang bukan menjadi “irisannya”, mencampuri urusan orang lain, dan memberikan komentar tanpa kendali.
Komunikasi yang sehat menuntut kedisiplinan. Ia harus terkendali, adil, dan efektif. Pesan yang disampaikan perlu memperhatikan kaidah bahasa, pilihan kata, hingga bahasa tubuh agar tidak menimbulkan salah tafsir. Ketika hendak memperjelas maksud lawan bicara, pertanyaan pun harus diajukan dalam koridor yang santun dan proporsional. Komunikasi yang campur aduk seperti himpunan yang tidak jelas batasnya, akan memicu percekcokan.
Dalam wilayah irisan, yang dibahas adalah persoalan “kita” atau “kami”. Penggunaan kata ini menegaskan bahwa yang dibicarakan adalah masalah bersama, bukan upaya mengintervensi kehidupan pribadi orang lain.
Ketika komunikasi berfokus pada irisan, suasana menjadi lebih terbuka, jujur, dan nyaman. Masing-masing pihak merasa dihargai. Persahabatan tumbuh dalam rasa saling memahami, bukan saling menghakimi.
Menjaga batas dalam komunikasi bukan hanya soal etika sosial, tetapi juga soal kesehatan jiwa. Ketika kita mampu membatasi diri, tidak mudah terpancing untuk mencaci atau menghujat, psikis kita pun lebih terjaga. Hati menjadi lebih tenang. Pikiran lebih jernih.
Ketenangan batin pada akhirnya berpengaruh pada kesehatan fisik. Tubuh yang tidak dibebani amarah, kebencian, dan konflik berkepanjangan akan lebih sehat. Hubungan sosial pun menjadi lebih harmonis.
Sebagaimana irisan himpunan dalam matematika yang memiliki batas jelas, demikian pula dalam kehidupan. Jika kita hanya berfokus pada persoalan yang memang menjadi wilayah bersama, maka kita akan terhindar dari pertengkaran, hidup lebih damai, dan mampu memberi manfaat bagi sesama.
Menjadi manusia yang baik tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang cukup dengan satu kesadaran sederhana yaitu tahu batas, menjaga irisan, dan menghormati wilayah orang lain.(fsy)







