Oleh: Febri Satria Yazid
Di tengah derasnya arus informasi dan budaya pamer di media sosial, manusia modern semakin sibuk menilai kehidupan orang lain. Ironisnya, di saat yang sama, banyak yang justru kehilangan kedekatan dengan dirinya sendiri. Padahal, jauh sebelum era digital, Buya Hamka telah mengingatkan dengan kalimat yang tetap relevan hingga hari ini: “Mengenal diri sendiri jauh lebih sukar daripada ingin mengetahui pribadi orang lain. Sebab itu, kenalilah dirimu sebelum mengenal pribadi orang lain.”
Nasihat ini terasa kian penting ketika ukuran keberhasilan hidup sering disederhanakan menjadi jumlah pengikut, pencapaian materi, atau pengakuan publik. Kita lupa bahwa fondasi hidup yang kokoh justru lahir dari pemahaman yang jujur tentang diri sendiri.
Mengenal diri adalah tahap awal kemenangan hidup, sekaligus tahap yang paling berat. Ia menuntut keberanian untuk bercermin tanpa topeng, mengakui kelebihan tanpa jumawa, dan menerima kekurangan tanpa merasa hina. Di dalam diri manusia selalu ada dua sisi yakni kekuatan dan kelemahan. Keduanya tidak untuk disangkal, melainkan untuk dikenali dan dikelola.
Ketika seseorang mampu menilai dirinya secara objektif, rasa percaya diri tumbuh secara sehat. Percaya diri semacam ini tidak bergantung pada pujian, tidak runtuh oleh kritik, dan tidak goyah oleh perbandingan. Ia lahir dari kesadaran akan batas dan potensi diri.
Rasa minder sering kali muncul bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita terlalu sibuk mendengar penilaian orang lain. Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie, pernah mengatakan bahwa ketika seseorang menghina kita, sesungguhnya mereka sedang memberi perhatian lebih kepada kita. Pesan ini mengajarkan bahwa hidup tidak perlu dihabiskan untuk membuktikan diri kepada mereka yang gemar merendahkan.
Fokus pada kehidupan sendiri jauh lebih menenangkan dan produktif. Menjadi diri sendiri selalu lebih bermakna daripada berusaha meniru kehidupan orang lain. Budaya perbandingan yang masif hari ini kerap membuat seseorang merasa gagal, padahal ia hanya sedang berada di fase hidup yang berbeda.
Masa lalu yang pahit, dikhianati, dicurangi, atau dikecewakan—memang tidak bisa dihapus. Namun, mengenal diri berarti mampu menempatkan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sebagai beban yang terus menyeret langkah ke depan. Mengingat boleh, terjebak jangan.
Keberhasilan hidup tidak harus diraih dengan mengubah kepribadian demi menyesuaikan standar orang lain. Setiap manusia dianugerahi potensi yang unik. Ada yang unggul di bidang teknik, sosial, seni, pendidikan, atau menulis. Tugas kita bukan membandingkan potensi itu, melainkan menggali dan mengembangkannya.
Tanya pada diri sendiri, di bidang apa saya bisa bertumbuh dengan rasa senang dan makna? Ketika jawabannya ditemukan, keberanian untuk menekuninya menjadi kunci. Pekerjaan yang dijalani dengan kesadaran dan ketulusan akan memberi energi yang jauh lebih besar daripada sekadar mengejar pengakuan.
Dalam perspektif spiritual, mengenal diri memiliki makna yang lebih dalam. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa diri manusia ibarat sebuah kerajaan yaitu jiwa sebagai raja, akal sebagai penuntun, sementara syahwat dan amarah harus berada dalam kendali. Kekacauan batin terjadi ketika tatanan ini diabaikan.
Mengenali diri memang bukan proses singkat. Ia adalah perjalanan seumur hidup. Namun, ketika seseorang sungguh-sungguh sibuk membenahi dirinya, ia tidak lagi punya waktu untuk mencampuri kehidupan orang lain, meremehkan pencapaian mereka, atau merasa tidak rela atas apa yang dimiliki sesama.
Di tengah zaman yang riuh oleh penilaian dan pencitraan, mengenal diri adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling bermakna. Bukan untuk menjadi sempurna, melainkan untuk hidup dengan sadar, jujur, dan bertanggung jawab.(fsy)















