
Oleh : Febri Satria Yazid
Di tengah dunia yang kian gaduh oleh tuntutan keberhasilan, pencitraan, dan kecepatan, manusia justru semakin jauh dari dirinya sendiri. Kita diajari menguasai ilmu, strategi, dan teknologi, tetapi jarang diajak berhenti sejenak untuk bertanya: siapakah aku sebenarnya? Pertanyaan mendasar ini sering terabaikan, padahal di sanalah akar keteguhan jiwa dan kematangan akhlak bermula.
Quraish Shihab, dalam bukunya Yang Hilang dari Kita: Akhlak, menegaskan bahwa pengenalan diri merupakan pintu awal menuju kedewasaan ruhani. Tanpa mengenal diri, manusia mudah terombang-ambing oleh situasi, opini publik, dan dorongan ego. Ia tampak berani di luar, tetapi rapuh di dalam.
Ungkapan “ketahuilah dirimu dengan dirimu” bukanlah nasihat sederhana. Ia menuntut keberanian untuk masuk ke ruang terdalam diri manusia, ruang yang tidak selalu nyaman. Di sanalah tersimpan kelemahan, ketakutan, luka, sekaligus potensi yang kerap diabaikan. Pengenalan diri dalam makna ini bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan proses batin yang melibatkan akal, hati, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan.
Selama ini, kekuatan kerap diidentikkan dengan kecerdasan akal atau kelengkapan sarana. Namun pengalaman hidup menunjukkan bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Banyak orang yang secara intelektual unggul justru runtuh ketika menghadapi tekanan, sementara tidak sedikit orang dengan kemampuan biasa mampu bertahan dalam situasi sulit. Perbedaan keduanya terletak pada kekuatan jiwa.
Kekuatan jiwa lahir dari pengenalan diri yang utuh. Ketika seseorang hanya mengenal dirinya sebagai makhluk rasional, ia akan mengukur segalanya dengan kalkulasi untung dan rugi. Akibatnya, saat realitas tidak sejalan dengan logika, keberaniannya mudah runtuh. Sebaliknya, ketika seseorang mengenal dirinya sebagai makhluk ruhani yang memiliki nilai dan tujuan hidup, ia tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan. Ia sadar akan kelemahannya, tetapi juga sadar kepada siapa ia bersandar.
Di sinilah hubungan erat antara pengenalan diri dan keberanian menjadi jelas. Keberanian sejati, sebagaimana dipahami dalam perspektif akhlak, bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan menghadapi kesulitan dengan keteguhan jiwa. Keberanian semacam ini tidak lahir dari emosi sesaat, tetapi dari kesadaran diri yang jernih. Orang yang mengenal dirinya tahu batas ketakutannya, sekaligus tahu nilai apa yang patut diperjuangkan meskipun mengandung risiko.
Lebih jauh, pengenalan diri membuka jalan menuju pengenalan Tuhan. Kesadaran akan keterbatasan diri bahwa manusia rapuh dan tidak sepenuhnya berkuasa, membawa manusia pada pengakuan akan kehadiran Yang Mahakuasa. Dari kesadaran inilah lahir ketenangan batin. Dan dari ketenangan batin tumbuh keberanian yang matang.
Keberanian yang berakar pada kesadaran ketuhanan bukan keberanian yang bising atau penuh pamer. Ia tidak haus pengakuan dan tidak mencari panggung. Ia tenang, terukur, dan bertanggung jawab. Dalam situasi sulit, orang dengan keberanian semacam ini tidak mudah panik. Ia tahu apa yang bisa ia upayakan, dan apa yang harus ia serahkan kepada Tuhan.
Sebaliknya, tanpa pengenalan diri, keberanian mudah berubah menjadi kenekatan atau kesombongan. Banyak keputusan berisiko diambil bukan karena keteguhan jiwa, melainkan karena ego yang tidak terkendali. Di titik inilah akhlak memegang peran penting. Keberanian yang berakar pada akhlak selalu disertai kesadaran moral: kapan harus melangkah maju, kapan harus menahan diri, dan kapan harus bersabar.
Prinsip ini sejalan dengan pemikiran Sun Tzu dalam The Art of War. Ia menegaskan bahwa keberanian tanpa kendali adalah kebodohan. Seorang pemimpin yang bijak tidak digerakkan oleh emosi atau ambisi sesaat, melainkan oleh kejernihan membaca keadaan. Tidak semua konflik harus diselesaikan dengan benturan langsung. Menahan diri, menunggu momentum, atau bahkan menghindari konflik bisa menjadi bentuk kemenangan strategis sekaligus moral.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, pengenalan diri tercermin dalam kejujuran terhadap kemampuan, keberanian mengakui kelemahan, serta konsistensi menjaga nilai. Ketika kegagalan, fitnah, atau tekanan datang, orang yang mengenal dirinya mungkin terluka, tetapi tidak kehilangan arah. Ia memahami bahwa harga diri tidak ditentukan oleh sorak-sorai publik, melainkan oleh keteguhan memegang nilai.
Di zaman ketika keberanian kerap disalahartikan sebagai keberanian berbicara keras, berdebat tanpa henti, atau menonjolkan diri di ruang publik, ajakan untuk mengenal diri menjadi semakin relevan. Dunia hari ini ramai oleh opini, tetapi miskin perenungan. Banyak orang berani menghakimi, tetapi enggan bercermin.
Padahal, keberanian sejati justru tumbuh dalam keheningan batin. Ia lahir ketika seseorang berani berdialog dengan dirinya sendiri, mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam, serta menerima kelemahan tanpa membenci diri. Dari proses inilah akhlak menjadi matang, karena ia tumbuh dari kesadaran, bukan kepura-puraan.
Pada akhirnya, ruang paling menentukan dalam hidup manusia bukanlah panggung yang riuh, melainkan ruang sunyi tempat ia menata niat, menimbang langkah, dan mengingat Tuhannya. Dari ruang inilah lahir manusia yang tampak sederhana, tetapi kokoh; tidak lantang, tetapi tegas; tidak gemar menonjolkan diri, tetapi berani hidup lurus di tengah dunia yang gaduh.(fsy)














