Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (FGB ITB) telah menyelenggarakan orasi ilmiah pengukuhan guru besar pada Sabtu (24/8/2024) mulai jam 08.30 sampai dengan 10.45 WIB di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Bandung.
Salah satu guru besar yang menyampaikan orasi adalah Prof. Dr. Made Tri Ari Penia Kresnowati, S.T., M.Sc. dari Fakultas Teknologi Industri. Adapun orasi yang disampaikan berjudul : Teknologi Bioproses untuk Pengolahan Biomassa: Menuju Indonesia Berbasis Bioekonomi. Beliau merupakan sosok wanita yang sukses sebagai akademisi dengan tetap memberikan perhatian kepada keluarga. Meski memiliki karier cemerlang di dunia akademik, Prof. Penia tetap memprioritaskan keluarganya. Prof. Penia besar dari keluarga dosen, ayahnya I Nyoman Susila MSc adalah purnabakti dosen Matematika ITB, sedangkan ibunya Sukardinah MSi adalah purnabakti dosen Statistika UNPAD. Prof. Penia adalah istri dari Prof. Wawan Dhewanto, PhD, seorang profesor Kewirausahaan di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, dan ibu dari tiga anak (Thaariq I. Kresnodhewanto, Shiddiq B. Kresnodhewanto dan Idris S. W. Kresnodhewanto). Keseimbangan antara karier dan keluarga menjadi salah satu pencapaian besar yang diperlihatkan Prof. Penia, bahkan diakui dengan penghargaan Anugerah Perempuan Hebat Indonesia dari Liputan 6 pada 2017.
Prof. Penia berasal dari kelompok keahlian Teknik Pangan dan Kemurgi, Bidang Keahlian Teknologi Bioproses, Fakultas Teknologi Industri, ITB. Mendapat gelar Guru Besar ITB pada Agustus 2023. Beliau menyelesaikan pendidikan SMA Negeri 3 Bandung pada 1995 untuk kemudian melanjutkan studi dan meraih deretan gelar sebagai berikut :
Sarjana Teknik Kimia ITB (1995-1999), Master of Science in (Bio) Chemical Engineering TU Delft, The Netherlands (2000-2002), Doctor in Bioprocess Technology, TU Delft, The Netherlands (2002-2007), Riset Post Doctoral, Chemical Engineering Department, Monash University Australia (FWIS UNESCO – L’Oréal International Fellowships, Endeavour Research Fellowships (2008-2010), dan Program Profesi Insinyur ITB (2020).
Selama bergabung dengan ITB, Prof. Penia telah memiliki pengalaman menduduki posisi sebagai berikut: Koordinator Rancang Pabrik Bioproses (2013-2016), Koordinator Penelitian Program Studi Teknik Pangan (2017-2020), GKM Program Studi Teknik Pangan (2017-2020), GKM FTI (2016-2020), Tim Penilai Angka Kredit FTI (2020-2023), dan saat ini Ketua Program Studi Teknik Pangan periode (2021-2022) dan (2023-2024).
Tak kalah mengagumkan, beliau mencatatkan diri sebagai penerima berbagai penghargaan, yakni :
- Endeavour Research Fellowships 2008
- UNESCO-L’Oreal International Fellowships 2008
- Anugrah IPTEK 2012 – Wanita Peneliti Bidang Teknologi Bioproses
- Anugrah Dewi Sartika – Tokoh Cendekia Jawa Barat, 2012
- Best Paper Award, AUNSEED NET Regional Conference on Chemical Engineering, 2014
- Poster Terbaik, Seminar Hasil Penelitian Kompetitif Nasional, Kemenristek Dikti, 2015
• Anugerah Perempuan Hebat Indonesia, Liputan 6, 2017
• Anugerah Peneliti, ITB, 2016
•’Satyalancana Karya Satya 10 tahun’, Republik Indonesia, 2021.
Dalam kesempatan orasinya, Prof. Penia membahas pemanfaatan teknologi bioproses untuk pengolahan biomassa. Lebih dalam disampaikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman hayati terbesar di dunia. Namun sayangnya kekayaan tersebut belum menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Tingkat penguasaan teknologi pemanfaatan dan pengolahan potensi kekayaan alam Indonesia tersebut masih terbatas. Indonesia masih banyak mengimpor bahan, produk antara untuk digunakan dalam berbagai industri di Indonesia dan juga masih banyak mengimpor produk akhir atau produk jadi untuk dapat dikonsumsi langsung oleh masyarakat Indonesia. Hal ini secara langsung ataupun tidak langsung dapat mempengaruhi ketahanan serta kedaulatan bangsa Indonesia.
Kilang biomassa terintegrasi untuk meningkatkan keekonomian proses.
Orasi ilmiah ini menguraikan beberapa contoh pengembangan teknologi bioproses, yaitu teknologi pengolahan bahan baku menjadi produk atau jasa menggunakan proses – proses biologis baik berupa sel hidup secara keseluruhan ataupun sebagian komponen sel hidup seperti enzim, untuk pengolahan biomassa Indonesia dalam rangka menjawab permasalahan – permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, khususnya dalam bidang pangan dan energi. Pembahasan difokuskan kepada 3 jenis biomassa yang tersedia secara melimpah di Indonesia yaitu cokelat/kakao, singkong dan Tandan Kosong Sawit (TKS).
KAKAO
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia. Sayangnya biji kakao masih dihargai rendah karena keterbatasan kualitasnya. Dalam orasi ilmiah ini diuraikan penerapan metabolic profiling dan pengembangan proses fermentasi biji kakao untuk meningkatkan kualitas biji kakao.
SINGKONG
Saat ini singkong merupakan tanaman pangan yang diproduksi kedua terbesar di Indonesia, dan sangat berpotensi untuk dimanfaatkan untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Pemanfaatan singkong di industri pangan saat ini cukup terbatas, singkong perlu diolah lanjut agar dapat dimanfaatkan secara meluas oleh industri pangan. Dalam orasi ilmiah ini diuraikan pengembangan teknologi bioproses untuk memperluas potensi pemanfaatan singkong di industri pangan yang telah dilakukan secara sistematis dari skala lab sampai ke skala komersial.
KELAPA SAWIT
Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan perkebunan Indonesia. Indonesia menjadi negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Selain menghasilkan minyak, industri kelapa sawit juga menghasilkan berbagai jenis biomassa di antaranya tandan kosong sawit, cangkang, dan serat sawit. Saat ini sebagian besar tandan kosong sawit dikembalikan ke kebun sebagai penggembur tanah (mulsa). Dalam orasi ilmiah ini diuraikan pengembangan teknologi bioproses untuk memperluas potensi pemanfaatan tandan kosong sawit berdasarkan konsep kilang biomassa (biorefinery). Berbagai potensi produk diuraikan, terutama yang berkaitan dengan produk – produk pangan dan energi, meliputi bioetanol, xilitol, vanilin, karoten, dan enzim, berikut analisa potensi penerapan kilang biomassa terintegrasi untuk meningkatkan keekonomian proses.
Prof. Penia menyampaikan pada bagian akhir materi orasi bahwa beberapa contoh topik yang perlu terus diteliti dan dikembangkan, berikut tantangan – tantangan yang masih harus dijawab. Hal ini menunjukkan bahwa kerja kita masih jauh dari selesai. Potensi biomassa Indonesia sangatlah besar dan kita bergandeng tangan, bekerja sama mengembangkan inovasi-inovasi teknologi untuk kemaslahatan bangsa. Membangun Indonesia berbasis bioekonomi.
Prof. Penia menjadi sosok teladan bagi banyak orang, terutama dalam mengimbangi karier dan kehidupan keluarga. Bersama suaminya, Prof. Wawan, mereka menjadi pasangan profesor di ITB yang telah mencapai posisi akademik tertinggi di bawah usia 50 tahun. Hal ini membuktikan bahwa dengan kerja keras, dukungan, dan harmonisasi, impian bersama dapat tercapai. Prof. Penia juga menunjukkan sikap-sikap teladan dalam menghadapi tantangan, baik dalam karier maupun keluarga. Kehadirannya menjadi bukti nyata bahwa wanita bisa sukses dalam karir serta keluarga dan mencapai hasil yang maksimal.













