Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi gencar sosialisasi pencegahan stunting di kota Cimahi.salah satunya dengan menjadi narasumber di acara tamu kita TVharmoni edisi kamis 29/12/2022,sore.
Kepala DP3AP2KB Kota Cimahi dr. Fitriani Manan, MKM. menjelaskan tidak semua balita yang bertubuh pendek itu stunting,namun dipastikan kekurangan gizi bisa menyebabkan seorang anak mengalami gagal tumbuh.

“Stunting itu kondisi gagal tumbuh pada balita disebabkan oleh kurang gizi kronis dalam jangka waktu lama dan juga disebabkan karena infeksi yang berulang sehingga menyebabkan tinggi badan anak atau panjang badan anak dibandingkan dengan usianya itu dibawah standar, jadi Biasanya kita kenal dengan pendek atau sangat pendek tidak semua balita yang pendek atau sangat pendek itu stunting karena memang ada faktor lain misalnya karena faktor genetik atau keturunan sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan”Jelas dokter Fitri
Stunting sendiri menurut Fitri bukanlah suatu penyakit tapi seorang anak bisa mengalami stunting disebabkan karena suatu penyakit yang terus berulang
“Stunting itu bukan penyakit tapi dia adalah kondisi gagal tumbuh karena kekurangan gizi yang lama atau kronis dan juga bisa karena dia terkena penyakit secara berulang misalnya dia diare terus-menerus sehingga diawali dengan berat badan yang kurus atau gizi buruk yang lama-kelamaan mempengaruhi tinggi badannya sehingga tinggi badannya juga di bawah standar”jelasnya
Ditambahkan Fitri pencegahan stunting bisa dilakukan sejak dalam usia kandungan bahkan sejak usia remaja jauh sebelum memasuki pernikahanpun pemerintah sudah berupaya mencegah terjadinya kelahiran anak stunting
“stunting ini bisa dicegah terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan, 1000 hari pertama kehidupan itu adalah pada masa dia dalam kehamilan 9 bulan sampai 2 tahun pertama kehidupan, jadi pencegahannya kita mulai dari masa remaja, karena sepertiganya remaja Indonesia ini kurang lebih kita kenal dengan anemia pada saat nanti dia menikah kemudian dia hamil,itu akan beresiko melahirkan anak yang sakit,jadi sejak remaja kita sudah intervensi dengan tablet tambah darah”Kata Fitri
Dirinya juga mengingatkan usia pernikahan yang tidak terlalu muda agar siap untuk hamil dan melahirkan anak yang sehat
“menikah itu dipastikan sudah harus cukup usia,sehingga pada saat hamil lingkar lengan atasnya tidak kurang dari 23,5 kalau kurang dari itu kita namakan dengan ibu hamil kurang energi kronik atau bumilkek,dan itu beresiko melahirkan anak yang stunting”katanya
selain itu pada masa kehamilan seorang bumil dipastikan pemeriksaan kehamilan yaitu minimal 6 kali selama kehamilan dan menjaga asupan giji selama masa menyusui ” dua kali pada trimester pertama 1 kali pada trimester kedua 3 kali pada trimester ketiga ini semua untuk mencegah supaya anak yang dilahirkannya dipastikan tidak dalam kondisi gizi yang kurang atau gizi yang buruk kemudian juga setelah melahirkan ibu dipastikan kondisi asupan gizinya juga baik sehingga pada saat menyusui anaknya bisa dalam kondisi baik dalam 2 tahun pertama kita pantau pertumbuhannya status gizinya kemudian imunisasi dasarnya juga harus lengkap sesuai dengan usia kehamilannya”jelasnya
Kota Cimahi hingga akhir tahun 2022 ini,menurut dokter Fitri sudah mampu melampaui target intruksi presiden jokowi untuk menurunkan angka stunting 14% di tahun 2024 nanti,namun meski demikian pihaknya terus melakukan sosialisasi pencegahan stunting ini untuk menjadikan kota cimahi zero new stunting
“untuk kota cimahi balita yang terkena santing itu 9,7% ini sudah turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya jadi ditargetkan nanti 2024 sesuai dengan Instruksi Presiden kita harus di bawah 14% Cimahi sebetulnya sudah dibawah 14% tapi Jawa Barat menargetkan artinya tidak boleh ada lagi kasus baru Kalau yang lama memang apa namanya sudah terjadi ini kita prioritaskan tidak ada lagi yang baru pada tahun 2023″pungkasnya.(AG)













