Bandung, harmonionline.net-Ilmu komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rumpun ilmu-ilmu sosial.Begitu pun dalam hal karakeristiknya dan teorisasinya seperti pendekatan objektif, pendekatan konstruktivis, dan pendekatan kritis.
Juga halnya dengan wilayah lapangan metode riset komunikasi yang tak lain tak bukan adalah bagian dari metode riset sosial pada umumnya. Perkembangan yang luas dalam ilmu komunikasi yang begitu cepat membuat sebuah terobosan dan macam-macam pendekatan baru dan variabel baru yang ditemukan sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat.
Perkembangan–perkembangan dalam model riset komunikasi sesuai dengan tuntutan akan sebuah formulasi baru dalam ilmu komunikasi baik yang menyangkut aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologinya.
Untuk itu, Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (IDIK), mengadakan webinar dengan tajuk Menggiatkan Tradisi Riset Komunikasi yang menjadi rangkaian acara Rapat Kerja IDIK.
Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 29 Mei 2021, dengan pembicara yang ahli di bidangnya, antara lain Dr Laksana Tri Handoko MSc, Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN).
Prof Dr Atwar Bajari MSi sebagai Guru besar Ilmu Komunikasi, serta Dr Andry Alamsyah SSi MSc, dosen Telkom University dan diikuti oleh sekitar 120 partisipasipan.
Mengawali acara, Laksana Tri Handoko menyampaikan pernyataannya.
“Aktivitas riset itu aktivitas nyata, namun kolaborasi tidak bisa dipaksa dan tidak bisa diatur. Kolaborasi sebenarnya adalah relasi personal,” ucapnya.
Atwar Bajari sebagai Guru besar Ilmu Komunikasi melihat fakta, bahwa hasil riset yang selama ini banyak ditemukan secara online maupun offline kebanyakan menggunakan pendekatan kuantitatif.
“Dinamika riset komunikasi sebagian besar masih dominan dengan riset pendekatan kuantitatif. Sehingga ketika ada yang menyajikan riset dengan pendekatan kualitatif, akan banyak timbul pertanyaan sentimentil, apakah hasilnya ilmiah atau tidak,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa doktoral di Unpad rata-rata membuat riset dengan tema komunikasi politik dan komunikasi kesehatan.
“Teman-teman yang menggunakan pendekatan kualitatif akan mengalamai kesulitan mendapatkan prosedur riset. Riset sosial harus mengutamakan kemaslahatan, teknik tonikpotensionalistik atau toksikpotensionalistik bisa jadi boomerang,” ucapnya.
“Salah satu tren di mana riset teknologi sejak tahun 2008-2012 sangat tinggi dan naik daun,” tambahnya.
Andry Alamsyah menyinggung mengenai big data yang bisa menjadi penjelas bagi proses pembuatan riset.
“Dari Linkedin kita bisa melihat data dan pkstingan yang sangat banyak setiap harinya. Bio data, gaji, pekerjaan bisa kita temukan di sana. Itu contoh kecil,” jelasnya.
Tak hanya itu, menurutnya, akan banyak hal yang terjadi dan berpotensi dari big data tersebut.
“Terjadi kompetisi ekosistem bisnis dan pelanggan pengambilan dat besar-besaran. Semakin banyak data semakin akurat menggambarkan diri seseorang. Data interaksi data perilaku dengan tujuan personalisasi, dengan tidak mau mengalah, merasa paling benar. Dan ada kondisi yang besar berupa penyebaran hoax, dan hal itu lebih cepat menyebar,” jelasnya.
“Big data itu, berupa value dari setiap orang, berbeda oportuniti kita untuk menggali informasi, tanpa big data, kita seperti orang yang buta dan tuli. Semoga dengan pemahaman baru mengenai teknologi ini, pengalaman riset semakin semangat dengan pola komunikasi yang efektif,” ucapnya.














