Gunung Nagara Padang terletak persis di perbatasan Kab.Bandung dan Kab.Bandung Barat. Punggung timur berada di wilayah Desa Rawabogo, Kecamatan Ciwidey Kab.Bandung, sementara punggung barat berada di Desa Buninagara, Kec.Sindang Kerta Kab.Bandung Barat. Meski berada di kedua desa dengan daerah atmidistratif yang berbeda, tidak menjadikan gunung ini kesulitan dikelola, karena retribusi dari parsa pengunjung sepenuhnya dikelola Perhutani sebagai pemilik lahan.
Untuk menuju Gunung Nagara Padang, dari Kota Bandung bisa melalui jalur utama Bandung Ciwidey. Kemudian, di pertigaan Puskesmas Pasirjambu tekuk kanan menuju Desa Mekarmaju dan selepas Desa Mekar Maju tekuk kanan kembali menuju Desa Nengkelan. Desa Nengkelan adalah desa tetangga Rawabogo yang aksesnya paling mudah untuk menuju ke Gunung Nagara Padang.
Selepas Desa Nengkelan, kita akan temukan gerbang selamat datang, Desa Rawabogo. Gerbangnya cukup unik, kerna tidak berupa gapura, melain tebing yang disemen berpola bongkahbatu dan bertulisakan Selamat Datang di Desa Rawabogo. Tidak jauh dari gerbang tersebut ada pertigaan persis di depan balai desa. Tekuk kanan menuju Jl.Simpang Tiga. Dari situ lurus dan kita akan bertemu pertigaaan Jl.Ciwidey-Buninagara. Sepanjang jalan tersbut kita akan menemukan pohon pohon tinggi jenis akasia dan kayu putih. Selain itu, di beberapa titik terlihat juga perkebunan teh.
Dari pertigaan Jl.Simpang Tiga Jl.Ciwidey-Buninagara menuju ke arah belok ke Gunung Nagara Padang kurang lebih 2.5 KM. Setelah sekira dua kiloan, kita akan menemukan plang petunjuk untuk beberbelok ke lokasi.
Agar lebih nyaman, Anda yang ingin berwisata ke tempat ini, disarankan menggunakan kendaraan roda dua, karena akses dari Jl.Ciwidey-Buninagara menuju ke gerbang Gunung Nagara Padang tidak memungkinkan dilalui oleh R4 secara nyaman. Lagi pula, belum tersedia parkir untuk R4 di jalan belok untuk menuju ke atas, ke lokasi gerbang retribusi pengunjung.
Nah, untuk roda dua pun perlu dipikirkan kondisi mesin dan roda serta rem, karena untuk menuju ke atas jalannya membutuhkan kondisi R2 yang benar benar prima.
Untuk menaiki Gunung Nagara Padang ada aturan turun temurun warga setempat, yang mengharuskan naik dari punggung barat. Gerbang masuk dipercaya warga setempat adalah simbol rahim tempat lahirnya manusia. Sejauh ini tidak diketahui apa konsekuensi bagi pengunjung bila naik dari jalan turun. Namun, sejumlah warga menuturukan banyak pengunjung yang tersesat di gunung tersebut akibat salah naik.
Meski namanya mirip dengan Gunung Padang di Cianjur, jangan dibayangkan bentuk bebatuan yang terserak akan sama. Bahkan bila dibandingkan dengan bebatuan yang ada di Stone Garden, Cipatat, bebatuan yang ada di Gunung Nagara Padang ini karaktaristiknya berbeda. Bentuk batuannya cenderung berbentuk besar ada seperti kerucut, ada yang seperti kubus dan ada pula yang berbentuk kubus. Yang menarik semua ukurannya besar, mencapai belasan sampai puluhan meter. Hampir setiap batu ada pola datar yang bisa dijadikan tempat untuk berfoto atau sekedar untuk mengaso pengunjung.
Sejumlah batu memiliki nama yang disesuiakan ‘peruntukannya.’ Ada batu datar dibawah sementara di atasnya bebentuk seperti kubah mesjid, disebut dengan batu masigit. Pengunjung umumnya sholat di batu ini. Ada juga batu yang memiliki suara nyaring, dimana konon para penyanyi yang berkunjung ke batu itu dan bernyanyi di situ akan menjadi penyanyi terkenal. Ada pula batu wedak dimana batunya bisa digosok seperti bedak.
Terlepas dari sejumlah mitos tersebut, batuan di gunung ini memang sangat eksotis. Dari beberapa batu yang memiliki landasan di atasnya kita bisa melihat pemandangan di Bandung Barat Barat yang sangat indah. Bila musim hujan, maka hamparan air Waduk Saguling akan terlihat dengan jelas, sejumlah gunung lain di sekitar Sindangkerta tampak lebih kecil. Sebagian diantaranya nampak bagai tumpeng dibariskan.
Meski indah dan cukup memenuhi sayrat bagi penyuka hiking, berkunjung ke gunung ini harus didampingi mereka yang sudah terbiasa berkunjung ke sini, atau mereka yang sangat tahu soal naik gunung. Jalan naik sampai turun, terbilang ekstrem. Selain licin saat hujan, beberapa jalan setapaknya cukup kecil dan sisi jalannya jurang menganga.
Di puncak gunung ada spot yang hanya cukup untuk 3 sampai 4 orang. Di tempat ini kita bisa memandang keindahan daerah Cililin dan Sidangkerta denngan vegertasinya yang masi hijau. Di puncak ini ada batu yang menjorok ke jurang. Bagi para pecinta olahraga ekstrem, seringkali dijadikan objek selfi yang menantang dengan berdiri di ujung batu, yang sebenarnya beresiko tinggi karena bila tergelincir maka dipastikan tidak akan selamat. Oleh karenanya kuncen, atau penjaga gunung seringkali memberi warning pada para pengunjung untuk menghindari berfoto di lokasi ini, karena berbahaya.
Bagi pecinta alam dan penggemar hiking, rasanya sayang bila sudah sampai ke Ciwidey tidak menikmati perjalanan menuju Gunung Nagara Padang. Penulis pastikan, sekali berkunjung, maka akan selalu ketagihan untuk berkunjung lagi. (Prabu Wisesa)